Opini

NU Lebih dari Sekedar Modern.

Garut, NU Online
Sebagai muslim yang lahir dan tinggal di Indonesia, sepertinya tidak berlebihan jika saya menyatakan bahwa NU lebih dari sekedar modern. Karena konsep dari modern itu sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yaitu: 1) terbaru; mutakhir dan 2) sikap dan cara berpikir serta cara bertindak sesuai dengan tuntutan zaman.
Melihat dari definisi tersebut, NU lebih dari sekedar modern. Mengapa demikian, karena NU yang pimpin oleh para ulama, bahkan para wali, selalu mengupayakan kehidupan manusia, khususnya umat islam bisa menjadi manusia yang terbaik (mabadi khaira ummah) sebagaimana konsep Rais ‘Aam PBNU KH Ahmad Shiddiq pada masa itu.

Dimana konsep Mabadi Khaira Ummah memiliki lima prinsip moral, yakni Kejujuran (Ash-Shidqu), Menepati Janji (Al-Wafa bil ‘Ahdi), Tolong-Menolong (At-Ta’awun), Keadilan (Al-‘Adalah), dan Konsistensi atau Keteguhan (Al-Istiqamah). Kelima prinsip tersebut bertujuan agar umat muslim memiliki karakter unggul, mandiri, dan berintegritas.

Para ulama memikirkan masa depan seluruh umat manusia, khususnya umat muslim. Kenapa saya anggap lebih dari sekedar modern, karena para ulama NU sudah membaca masa depan manusia, khususnya umat muslim harus menjadi apa, sehingga setiap adanya perubahan mereka selalu melakukan proses penyesuaian diri terhadap kondisi lingkungan dan teknologi yang ada, terutama mencerdaskan umat manusia dengan ilmu agar setiap profesi dan pekerjaan yang mereka lakukan tidak lepas dari landasan agama sebagai pijakan dalam berfikir dan bertindak disetiap pekerjaannya tersebut.

Hal tersebut nampak dalam adaptasi adanya materi ilmu umum seperti matematika, geografi, IPA, dan ilmu umum lainnya di pesantren, adapula yang beradaptasi dengan menyelenggarakan Pendidikan formal sebagai Upaya menyiapkan santri dalam menghadapi masa depan.

Hal ini didasari saat saya ikut dilantik menjadi pengurus Lembaga Pendidikan Ma’arif NU di tahun 2015 yang dihadiri oleh Profesor Uman Suherman, Dimana pada masa itu sedang booming persiapan menghadap Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Ia tegaskan bahwa NU tidak hanya memikirkan MEA, namun juga memikirkan masa dengan manusia menghadapi akhirat, sedangkan MEA hanya bagian kecil dari kehidupan.

Sayapun mengingat pernyataan ketua PCNU Garut KH Atjeng Abdul Wahid yang mana para ulama mengurusi kehidupan manusia sebelum mereka lahir dengan adanya ritual syukuran empat bulanan, tujuh bulanan, syukuran lahiran sampai tahlilan yang kesemuanya tersebut merupakan upaya agar manusia yang dilahirkan menjadi manusia terbaik dan juga saat mereka meniggal diharapkan akan menjadi ahli surga.

Namun hal yang perlu dicatat, tujuan utama dari NU agar manusia menjadi manusia terbaik tidak lain dan tidak bukan dengan cara ngaji atau belajar. Karena menurut pandangan mereka, ilmu tidak dapat diwariskan seperti halnya harta, karena tidak ada jaminan anak seorang kiai atau professor bisa menjadi seorang ahli ilmu jika mereka tidak belajar.

Dengan tulisan ini, semoga sebagai warga NU kita semakin tersadar akan pentingnya belajar seumur hidup untuk menghadapi masa depan yang belum bisa kita pastikan, namun bisa kita upayakan.

Penulis merupakan Pengurus LAKPESDAM PCNU Garut 2025-2030

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button